Rabu, 29 Mei 2013

Sistem Saraf Otonom

“SISTEM SARAF OTONOM”
v  Gambaran Umum Sistem Saraf
System saraf adalah serangkaian organ kompleks dan bersambungan serta terdiri dari jaringan saraf yang bekerja sama dan mengolah informasi untuk menghasilkan suatu reaksi


a)     Sistem saraf perifer (terletak diluar otak dan medulla spinalis)
b)     Sistem sarf pusat (terletak di otak dan medulla spinalis)
c)      Divis eferen (neuron yang membawa sinyal dari otak dan medulla spinalis ke jaringan tepi)
d)     Divisi aferen (neuron yang membawa informasi dari jaringan perifer ke SSP)
e)     Sistem saraf otonom (tidak dipengaruhi oleh kesadaran)
f)       Sistem saraf Somatik (dipengaruhi oleh kesadaran)
g)     Simpatis (mempertahankan derajat keaktifan dan juga kemampuan untuk memberikan respon pada situasi stress)
h) Parasimpatis (menjaga fungsi tubuh esensial ex: proses pencernaan makanan dan penguraian zat-zat sisa) paaa umumnya, kerja simpatis dan parasimpatis adalah berlawanan, tetapi ada juga yang kerjanya secara searah.

v  Neurotransmiter
Rangsangan dari sususnan saraf pusat untuk mencapai ganglion efektor memerlukan suatu penghantar yang disebut transmitter neurohormon atau biasa disebut neurotransmitter . Neurotransmitter adalah substansi kimia yang berfungsi membawa pesan yang akan diantarkan ke reseptor. 
v  Neurotansmiter :
ü  Saraf simpatis (adrenergik) : Efinefrin dan norefinefrin
Saraf parasimpatis (kolinergik) : Asetilkolin

Reseptor adalah penerima yang akan manimbulkan efek fisiologi
v  Reseptor  :
ü  Reseptor saraf simpatis (α & β)
α1 adrenergik (otot polos)
α2 Adrenergik (pembuluh darah, ujung saraf, otak)
β1 adrenergik (pembuluh darah)
β2 adrenergik (jantung, paru-paru)
β3 adrenergik (jaringan adipose/lemak)
ü  Reseptor saraf parasimpatis
ü  Nikotinik
NM (Bekerja pada jaringan, taut muscular otot. Respon : depolarisasi and plate, kontraksi otot rangkan).
NN  (Bekerja pada jaringan: ganglia autonom, medulla adrenal. Respon : depolarisasi neuron dan stimulasi neuron pasca ganglion serta depolarisasi katekolamin).
Neuron SSP (Bekerja pada jaringan: otak dan medulla spinalis. Respon : control pada pelepasan neurotransmitter).
ü  Muskarinik
M1 (Bekerja pada jaringan : ganglia autonom. Respon : depolarisasi
M2  (Bekerja pada jaringan : 1. Jantung – nodus sinoatrial (SA). Respon : Depolarisasi spontan lambat, hiperpolarisasi.
2. Atrium
Respon : Durasi potensial aksi diperpendek
3. Nodus atrioventrikuler (AV)
Respon : Kecepatan konduksi menurun .
M3  (Bekerja pada jaringan : Otot polos. Respon : kontraksi, dilatasi pembuluh darah).
M4
M5  (Bekerja pada jaringan : SSP) 

v  Efek Farmakodinamik
Efek farmakodinamik adalah  respon tubuh terhadap sistem saraf :
No
Organ efektor
Saraf simpatis
Saraf Parasimpatis
1
Mata
Midriasis (pelebaran pupil mata)
Miosis (pengecilan pupil mata)
2
Jantung
Takikardia (peningkatan kontraski)
Bradikardia (penurunan kontraksi/ dilatasi)
3
Pembuluh darah
Vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah)
Dilatasi (pelebaran pembuluh darah)
4
Paru-paru
(respirasi
Relaksasi (pelebaran bronkus)
Kontraksi (penyempitan bronkus)
5
Lambung
Penurunan motilitas
Peningkatan motilitas
6
Ginjal
Penurunan dan peningkatan
-
7
Organ kelamin laki-laki
Ejakulasi
Ereksi
8
Kulit
kontraksi
-
9
Saliva
Sekresi kalium air +1
Sekresi kalium air +3

v  Antagonis Adrenergik
Antagonis adrenergik (disebut pula bloke, penyekat) mengikat adrenoseptor tetapi tidak menimbulkan efek intraselular yang diperantrai oleh reseptor seperti lazimnya.
v  Penyekat adrenergic
ü  Penyekat adrenergic α
Obat-obat yang menyekat adrenoseptor  α sangat mempengaruhi tekanan darah.
Contoh obat : Doxazosin, Fenaksinbensamin, Fentolanin, Prazosin, Terazosin.
ü  Penyekat Adrenergik β
Semua obat penyekat β bersifat antagonis kompotitif. Penyekat β non selektif bekerja pada reseptor β1 dan β2.
Contoh obat : Propanolol, Asebotolol, Atenolol, Labetalol, Metapolol, Nadolol, Pindolol, Timolol.
ü  Obat-obat yang mempengaruhi pelepasan / ambilan neurotrasmiter.
Contoh obat : Guanetidin, kokain, Reserpin.
v  Agonis Adrenergik
Ø  Bekerja lansung
Agonis bekerja lansung terikat pada reseptor adrenergic tanpa berintraksi dengan neuron presinaptik. Reseptor yang diaktifkan ini mengawali sintesis pembawa pesan kedua dan menimbulkan banyak sinyal daam sel. Ciri obat adrenergic kerja lansung adalah bahwa reseptornya tidak berkurang setelah terlebih dahulu diberikan reserpin tetepi bahkan meningkat karena adanya peningkatan sisntesis reseptor sebagai mekanisme kompensasi trhadap hilangnya neurotrasmiter.
Contoh obat : Albuterol, Klonidin, Dobutanin, Dopamin, Efinefrin, Isoproterenol, Metaproterenol, Metoksamin, Neofinefrin, Felinefin, Ritodrin, Terbutalin.
ü  Bekerja tidak lansung
Agonis adrenergic bekerja tidak lansung menyebabkan pelepasan norefinefrin dari ujung presinaptik. Obat-obat ini memperkuat efek norefinefrin endogen, tetapi tidak lansung mempengaruhi reseptor pasca sinaptik.
Contoh obat : Amfetamin, Tiramin
ü  Bekerja lansung dan tak lansung (Bekerja ganda)
Obat-obat ini memacu pelepasan norefinefrin dari ujun presinaptik  dan juga mengatifkan adrenoseptor pada membrane pasca sinaptik.
Contoh obat : Efedrin, Metaraminol.
v  Antagonis Kolinergik
Ø  Obat anti muskarinik
Obat ini bekerja menyekat  reseptor muskarinik yang menyebabkan  hambatan semua fungsi muskarinik. Selain itu obat ini menyekat sedikit perkeculian neuron simpatis yang juga kolinergik, seperti  saraf simpatis yang menuju ke kelenjar keringat.
Contoh obat : Atropin, Iptropin, Skoplamin
Ø  Obat Ganglionik
Penyekat ganglionik ini secara spesifik bekerja terhadap reseptor nikotinik, barangkali dengan menyekat kanal ion ganglia otonom, obat ini menunjukkan tidak adanya selektivitas terhadap ganglia simpatis maupun parasimpatis.
Contoh obat : Nikotin, Trimetafan, Mekamelamin.
Ø  Obat Heuromuskular
Obat ini bekerja menyekat tranmisi kolinergik antara ujung saraf motor dengan raseptor nikotin pada cekungan neuromuscular otot rangka.
Contoh obat : Atrakurium, Doksakurium, Metokurium, Mivakurium, Pankuronium, Piperkuronium, Rakuronium, suksinilkolin, Tubukurarin, Vekuronium.
v  Agonis Kolinergik
Ø  Agonis kolinergik bekerja langsung
Agonis kolinergik meniru efek asetilkolin dengan cara berikatan langsung pada kolinoseptor. Semua obat kolinergik yang bekerja langsung mepunyai masa kerja lebih lama dibandingkan dengan asetilkolin.
Contoh obat : Asetilkolin, Betanekol, Karbakol, Pilokarpin.

Ø  Agonis kolinergik bekerja tak langsung
Asetilkolinestrase adalah enzim yang khusus memecahkan asetilkolin menjadi asetat dan kolin enzim ini melekat pada membrane ujung saraf pre dan pasca sinaptik. Obat penyekat asetilkolinestrase ini bekerja tak lansung sebagai kolinergik dengan memperpanjamg kebradaan asetilkolin endogen yang dilepas oleh ukung saraf kolinergik.
Contoh obat : Edroponium, Neostignin, Fisotignin, Pirodostignin.
ü  Agonis Kolinergik bakerja tak langsung
Sejumlah senyawa oganofosfat sintetik mempunyai kapasitas untuk melekat secara kovalen pada asetilkolinestrase. Keadaan ini memperpanjang asetilkolin pada semua tempat pelepasannya, kebanyakan dari obat ini sangat toksik.
Contoh obat : Isoflurofat, Ekotiofat



DAFTAR PUSTAKA
Mycek, Mary. Dkk. 2011. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya Medik : Jakarta.

Sulistia Ban Gunawan. 2007. Farmakologi Terapi. Ui-Press : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar