Kamis, 30 Mei 2013

PENGARUH INFUSA DAUN MURBEI ( Morus alba L. ) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN DIABETES KARENA PEMBERIAN ALOKSAN


PENGARUH INFUSA DAUN MURBEI ( Morus alba L. ) TERHADAP PENURUNAN 
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN DIABETES KARENA 
PEMBERIAN ALOKSAN 

PENGARUH INFUSA DAUN MURBEI ( Morus alba L. ) TERHADAP PENURUNAN 
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN DIABETES KARENA 
PEMBERIAN ALOKSAN


THE EFFECT OF MURBEI LEAVES INFUSE ON BLOOD GLUCOSE LEVEL OF
ALOKSAN INDUCTED DIABETIC
MALE WHITE RATS
Endang Sri Sunarsih¹, Djatmika², dan Sri Nilawati²
¹Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
²Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi “YAYASAN PHARMASI” Semarang

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan pengaruh infusa daun murbei terhadap kadar glukosa darah dan mencari dosis efektif infusa daun murbei yang mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan diabetes karena pemberian aloksan. Obyek uji penelitian ini adalah 20 ekor tikus putih jantan diabetes, galur Wistar, umur 2 – 3 bulan, BB 130 – 250 gram. Tikus dibagi secara acak dalam empat kelompok penelitian yaitu kelompok I, II, III, dan IV yang berturut turut mendapat perlakuan dengan akuades 5 ml / Kg BB, insulin 12,6 U / Kg BB, infusa daun murbei dosis 549 mg/ Kg BB dan 1098 mg / Kg BB. Perlakuan diberikan satu kali sehari selama 14 hari. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke – 4, 7, 10 dan 14 setelah perlakuan menggunakan metode ortho – toluidin. 
Hasil pengukuran kadar glukosa dalam darah ( mg/dl ) dianalisis secara statistika menggunakan metode SPSS versi 13.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun murbei dosis 549 mg / Kg BB dan 1098 mg / Kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan diabetes karena pemberian aloksan dibanding kelompok kontrol negatif dan efek penurunan yang ditimbulkan sebanding dengan insulin. 
Kata kunci : infusa daun murbei, glukosa darah, aloksan, diabetes. 

ABSTRACT 
The study was conducted to evaluate the effect of infusion of murbei leaves can used to decrease on blood glucose level and want to know the effective dose on white male rat diabetic induced by aloksan. The study use 20 male white rat diabetic of Wistar strain, at 2 – 3 months and 130 - 250 gram BW. The rats was divided randomized in 4 groups; each group consist of 5 rats and given treatment series with 5 ml / Kg BB of aquadest orally as negative controle; and 12.6 U / Kg BW of sub cutan insulin as positif controle; 549 mg / Kg BW Murbei leaves infuse orally and 1098 mg / Kg BW Murbei leaves infuse orally. The treatments were given once daily for 14 days. Blood glucose level were measured at 4th, 7th, 10th and 14th days after treatment by ortho toluidin methode.  
The result of blood glucose level (mg/dl) was analyzed by 2 way ANOVA used SPSS methode version 13.00. The conclusion of the study showed that Murbei leaves infuse 549 mg /Kg BW and 1098 mg / Kg BW can decrease blood glucose level with insulin effect proporsionally.
Key words: infusion of murbei leaf, blood glucose, aloksan, diabetic. 


PENDAHULUAN
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah atau penyakit degeneratif yang terus bertambah jumlahnya di Indonesia. Jumlah kasus penyakit DM di propinsi Jawa Tengah dari tahun 2003 sampai tahun 2004 meningkat dari 54.560 menjadi 113.572, sedangkan jumlah kematian akibat DM meningkat dari 98 menjadi 313 (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2004). Meningkatnya prevalensi DM ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat. DM timbul akibat terjadinya defisiensi hormon insulin absolut dan relatif yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesa lemak (Mayes, P.A. 1990). Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin, sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya (Tjay dan Rahardja, 2002; Mutschler, 1986).
 Mengingat bahayanya penyakit DM tidak dapat disembuhkan, maka penggunaan obat merupakan pilihan utama dalam menanganinya. Obat yang sering dipergunakan untuk terapi DM adalah golongan sulfonilurea dan biguanid (Nolte, M.S dan Karam, J.H; 2002). Penggunaan obat anti diabetes biasanya berlangsung lama dengan efek samping yang ditimbulkan cukup besar, sehingga biaya yang ditanggung oleh penderita secara keseluruhan juga besar. Maka diperlukan suatu alternatif pengobatan yang harganya relatif murah dan khasiatnya tidak berbeda jauh dengan obat sintetik. Salah satu alternatif pengobatan tersebut adalah penggunaan obat tradisional dari tanaman alam (Miladiyah, I, dkk. 2003) misalnya penggunaan tanaman murbei ( M. alba L. ) sebagai penurun kadar glukosa darah. Tanaman murbei terutama daunnya dapat digunakan untuk mengobati DM, hipertensi, hiperkolesterolemia dan gangguan pada saluran cerna (Dalimartha, S. 2000).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh infusa daun murbei ( M. alba L. ) terhadap penurunan kadar glukosa darah dan seberapa besar dosis efektif infusa daun murbei yang mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan diabetes karena pemberian aloksan.
METODE PENELITIAN
BAHAN : Hewan uji tikus putih jantan galur Wistar, umur 2 – 3 bulan, BB antara 130 – 200 gram, diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Daun murbei yang telah dikeringkan. Insulin Monotard 40 IU / ml ( B. Braun ), bahan – bahan yang dipakai untuk pengukuran kadar glukosa darah meliputi: pereaksi ortho – toluidin ( E.Merck ), heparin sodium injeksi U.S.P 5000 IU ( B.Braun ), Dglukosa monohidrat (E.Merck), asam trichloro asetat 10 % ( E.Merck ), aloksan monohidrat 2,0 % (Sigma Aldrich USA). akuadest dan akua bidestillata.ALAT : Spektrofotometer mini 1240 UV – Vis Shimadzu , mikroskop optic ( Digital Olimpus ), mikrotom.
PROSEDUR PENELITIAN :Pembuatan infusa daun murbei : Daun murbei yang telah dikeringkan diserbuk dengan derajat kehalusan 5/8, kemudian ditimbang serbuk kering daun murbei sebanyak 10 gram ditambah 100 ml air suling dan air ekstra dua kali bobot serbuk di dalam panci infus (Van Duin, C.F. 1960). Penyarian dilakukan selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90οC, kemudian disaring panas melalui kain flanel dan ditambah air panas secukupnya dalam ampas lalu disaring kembali sampai diperoleh volume infus sebanyak 100 ml.
Pengelompokan dan perlakuan hewan uji :Sebelum digunakan untuk penelitian, 20 ekor tikus dibuat diabetes dengan pemberian aloksan 150 mg / Kg BB secara intraperitonial. Sebelum dibuat diabetes dan tiga hari setelah penyuntikan aloksan, tikus diambil darahnya, kemudian diukur kadar glukosa darahnya menggunakan metode ortho-toluidin pada spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 634 nm..  Tikus dikatakan mengalami diabetes apabila kadar glukosa darahnya > 200 mg/dl. Tikus yang telah diabetes sebanyak 20 ekor dibagi secara acak menjadi 4 kelompok penelitian yaitu kelompok I, II, III, dan IV, yang berturut turut mendapat perlakuan dengan akuades 5 ml / Kg BB ( kontrol negatif ) per oral, insulin 12,6 U / Kg BB ( kontrol positif ) sub cutan, infusa daun murbei dosis 549 mg / Kg BB per oral dan infusa daun murbei dosis 1098 mg / Kg BB per oral. Perlakuan diberikan satu kali sehari selama 14 hari.
Pengukuran kadar glukosa darah : Sampel darah diambil melalui vena lateralis ekor tikus pada waktu sebelum perlakuan ( diukur sebagai kadar gula darah awal ) dan pada hari ke-0 ( setelah tikus di induksi aloksan dan menjadi diabetes ), pada hari ke 4, 7, 10, dan 14 setelah perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek penurunan glukosa darah dan dosis efektif infusa daun murbei ( M. alba L. ) yang mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes yang diinduksi aloksan. Sediaan infusa dipilih dalam penelitian ini karena disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan obat tradisional yaitu dengan cara diminum dalam bentuk rebusan. Selain itu sediaan infusa dibuat dengan menggunakan pelarut air, dimana pelarut airmudah diperoleh dan mempunyai sifat yang netral sehingga tidak mempengaruhi hasil penelitian. Untuk membuat kondisi diabetes dalam penelitian ini menggunakan metode uji diabetes aloksan, dimana sebagai pemicu diabetes ( diabetogen ) digunakan aloksan. Sedangkan metode pengukuran kadar glukosa darah digunakan pereaksi warna orthotoluidin.
Sebelum dilakukan pengukuran kadar glukosa darah tikus, terlebih dahulu tikus dipuasakan selama 18 jam. Tujuannya untuk menghindari peningkatan kadar glukosa darah akibat makanan yang masuk. Hasil pengukuran rerata kadar glukosa darah tikus pada tiap kelompok perlakuan dapat dilihat pada tabel 1. Hasil pengukuran kadar glukosa darah awal pada semua kelompok perlakuan diperoleh nilainya antara 64,24 – 89,48 mg / dl, sedangkan pengukuran kadar glukosa darah pada hari ke – 0 ( waktu tikus menjadi diabetes ) diperoleh hasil kadar glukosa darahnya antara 301,38 – 422,00 mg / dl. Peningkatan kadar glukosa darah pada hari ke – 0 dibandingkan dengan hari awal ini merupakan salah satu tanda bahwa tikus telah mengalami diabetes.
Pada kelompok kontrol negatif dengan pemberian akuades 5 ml / Kg BB secara oral pada tikus diabetes, menunjukkan penurunan purata kadar glukosa darah pada hari ke – 4 dan 7 bila dibandingkan terhadap hari ke – 0 tidak dapat dipastikan penyebab turunnya kadar glukosa darah pada kelompok ini, kemungkinan diduga tikus mengalami perubahan fisiologis individual, pada waktu perlakuan dan saat pengambilan sampel darah, tetapi kadar glukosa darahnya masih masuk dalam rentang kadar glukosa darah kondisi diabetes yaitu > 200 mg / dl. Sedangkan pada hari ke – 10 dan 14 tikus mengalami peningkatan purata kadar glukosa darah kembali. Pada kelompok kontrol positif dengan pemberian insulin injeksi 12,6 Unit / Kg BB secara subkutan, kelompok sediaan uji infusa daun murbei 549 mg / Kg BB dan 1098 mg / Kg BB yang diberikan secara peroral menunjukkan penurunan purata kadar glukosa darah bila dibandingkan terhadap hari ke – 0 . Seperti yang terlihat pada tabel 1, penurunan purata kadar glukosa darah pada tikus diabetes ini menurun seiring dengan meningkatnya waktu terapi. Kelompok kontrol positif ( insulin 12,6 U / Kg BB ) menunjukkan penurunan purata kadar glukosa darah yang sangat besar pada hari ke – 10 dan 14. Pada kelompok sediaan uji infusa daun murbei 549 mg / Kg BB mengalami fluktuasi penurunan secara bertahap dan stabil pada hari ke – 4, 7, 10, dan 14 setelah pemberian sediaan infusa. Penurunan kadar glukosa darah yang sangat besar terlihat pada hari ke – 7 dan 14 setelah pemberian infusa daun murbei 549 mg / Kg BB, kelompok sediaan uji infusa daun murbei 1098 mg / Kg BB menunjukkan penurunan purata kadar glukosa darah yang lebih besar pada hari ke – 14 dibandingkan terhadap hari ke – 0. Penurunan kadar glukosa darah masing – masing kelompok perlakuan pada waktu tertentu secara lebih jelas dapat dilihat dalam bentuk nilai persen rata – rata perubahan kadar glukosa darah yang dapat dilihat pada tabel 2. Sedangkan grafik yang menggambarkan persen perubahan kadar glukosa darah pada masing – masing kelompok dapat dilihat pada gambar 1.
Data kadar glukosa darah ( mg / dl ) pada masing – masing tikus dan reratanya pada semua kelompok perlakuan dianalisa secara statistik dengan metode analisa varian dua jalan pada tingkat taraf kepercayaan 95 %. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa pemberian infusa daun murbei dosis 549 mg / Kg BB dan dosis 1098 mg / Kg BB mampu menurunkan kadar glukosa darah secara bermakna ( p < 0,05 ) dibandingkan kontrol negatif ( Akuades 5 ml / Kg BB ) dan efek penurun kadar glukosa darah yang diberikan sebanding ( p > 0,05 ) dengan efek insulin 12,6 U / Kg BB dalam menurunkan kadar gula darah. Penurunan kadar glukosa darah secara bermakna ( p < 0,05 ) pada kelompok kontrol positif, infusa daun murbei dosis 549 mg / Kg BB dan dosis 1098 mg / Kg BB dimulai pada hari ke – 14.  Efek penurunan kadar glukosa darah yang ditimbulkan oleh infusa daun murbei diduga disebabkan oleh suatu senyawa yang memiliki sifat seperti insulin, dimana senyawa tersebut mampu memacu terjadinya proses glikogenesis, pengubahan kelebihan glukosa menjadi lemak serta menghambat glukoneogenesis (Guyton, A.C, 1997). Namun untuk mengetahui kandungan zat aktif infusa daun murbei yang berperan pada penurunan kadar glukosa darah dan mekanisme aksi zat aktif infusa daun murbei dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes karena pemberian aloksan diperlukan penelitian lebih lanjut.
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Infusa daun murbei ( M. alba L. ) dosis 549 mg / Kg BB dan 1098 mg / Kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes karena pemberian aloksan.
2. Dosis efektif infusa daun murbei yang mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes karena pemberian aloksan sebesar 549 mg / Kg BB.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang : uji toksisitas, kandungan senyawa aktif infusa daun murbei yang mampu menurunkan kadar glukosa darah, penelitian dengan memperlama waktu dan meningkatkan frekuensi pemberian infusa daun murbei, gambaran histopatologi pankreas tikus yang diinduksi aloksan dan setelah pemberian infusa daun murbei, serta pembuatan suatu sediaan farmasetis dari daun murbei.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menghaturkan terima kasih tiada terhingga, kepada semua pihak yang telah  membantu, dalam melaksanakan penelitian hingga penyusunan naskah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid I. Jakarta : Trubus

Agriwidya. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2004. Profil Kesehatan Propinsi Jawa Tengah ( sehat adalah investasi ). Jawa Tengah : Biro Pusat Statistik.

Guyton, A. C. 1997. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Terjemahan Andrianto, P. Edisi III. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Mayes, P.A. 1990, Integration of Metabolism & the Provision of Tissue Fuels, dalam Harper’s Biochemistry, 22th ed., Murray, R.K; Granner, D.K; Mayes, P.A; Rodwel, V.W(ed), Appleton & lange, Prentice-Hall International Inc. 260-266.

Miladiyah, I, Purwono, S, Mustofa. 2003. Efek Ekstrak Eter Daun Ceplukan ( Physalis minima Linn ) Setelah Pemberian Jangka Panjang Terhadap Kadar Gula Darah Tikus Diabetes. Majalah Obat Tradisional. Volume 8. ( 23 Januari – Maret 2003 ) : 10.

Mutschler, E. 1986. Dinamika Obat. Edisi V. Bandung : ITB.

Nolte, M.S dan Karam, J.H, 2002. Hormon Pancreas dan Obat Anti Diabetes, dalam Basic & Clinical Pharmacology, 8th ed, Katzung, B.G, (ed), McGraw-Hill Companies Inc. 271-710.

Tjay, T. H, Rahardja, K. 2002. Obat – Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Ek – Efek Sampingnya. Edisi ke V. Jakarta : PT Elex medica komputindo.

Van Duin, C. F. 1960. Buku Penuntun Ilmu Resep Dalam Praktek Dan Teori. Terjemahan Satiadarma, K., Nainggolan, S.P., Wangsaputra, E. Djakarta : Soeroengan,Petjenongan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar